Penunjuk Arah

Aku selalu berpikir, apa yang dapat kau temui dalam screen-screen menjemukan ini. Akankah menjinakkan hati dan pikirmu. Sedangkan manusia selalu tahu kemana ia pergi dan tak pernah melupakan jalan tuk kembali. Seperti itulah penunjuk arah ini kutancapkan. Aku selalu berpikir sederhana..Karena memahami yang mudah itu begitu sulit dan menyesakkan. Tak usah kau tanya yang lain, yang lebih tinggi dari itu, takkan kau jumpai dalam duniaku. Dunia yang kan segera kau telusuri ataukah kau tinggalkan. Kuserahkan pada nasib dan kemurahan hati.

Halamanku adalah tubuhku. Meski belum utuh..tapi aku mencitakannya begitu. Alas kakiku hanyalah gelombang penolakanku pada mainstream. Tak ada yang istimewa di sana dan hanya satu paragraf yang ku yakin kau kan segera melupakannya. Dahulu untuk kini hanyalah suara-suara garang yang bagiku mesti diteriakkan pada tiap pribadi yang porak-poranda. Aku percaya semua selalu bisa diperbaiki..dibangun lagi meski tak mudah..tak murah. Seandainya eksistensimu dapat merangkul inderawiku, begitu bernafsu..temuilah jejakmu di dahiku. Apakah persetubuhan kau aku telah merangkai pertautan hati? Ataukah hanya menjadi diskursus tanpa praksis? Aku rasa takkan ada kesadaran terhadap nalar tertinggi di glosarium selain hanya memudahkan kau aku membaca dan merekonstruksi makna. Seperti halnya cabikan larik-larikĀ  puisi. Sakral. Merenda langit? Cih..kita memang masih hijau,

Kemana kau kan berlari? Hidupku merinduimu.




Siluet

love art

More Photos